Idealisme
adalah bara yang memanaskan semangat hidup manusia. Dengan semangat itu hati
yang lemah tergerak, pikiran yang tergenang menjadi seganas samudera, dan kaki
yang berat mulai melangkah dan berlari mengejar mimpi tertingginya.
Inilah
pelajaran idealisme. Inilah jalan yang pernah ditapaki manusia-manusia besar
sepanjang sejarah. Mereka telah menelusuri setiap detail episode Sang Tokoh
ideal. Mempelajari setiap senyum dan perhatiannya sehingga menjadi manusia
paling sejuk raut mukanya dan tinggi moralnya. Mempelajari setiap pikirannya
sehingga menjadi manusia paling bijak. Setiap momen keberaniannya membuat
mereka menjadi petarung tak kenal ragu. Setiap sikap jujurnya menginspirasi
mereka menjadi okonom teratas di zamannya. Setiap kebijakannya menumbuhkan
mereka menjadi negarawan terlihai. Bahkan mereka belajar menjadi bapak yang
teladan bagi anak-anaknya, tetangga yang peka, suami yang penyayang, pemuda
yang terhormat, atau spesialis yang profesional.
Dan
sekumpulan manusia-manusia beridealisme itu pernah melukis kanvas sejarah sejak
15 abad yang lalu sehingga warnanya terlihat jelas hari ini. Warna itu adalah
umat. Saat dakwah membangun umat itu dimulai dengan kesendirian, bahkan
terasing dan terusir, lalu singkat saja menjadi 110 ribu jumlahnya dan tidak
lama kemudian umat berkembang hingga terbentang hingga kekuasaannya dari Cina
hingga Spanyol. Dari Rusia hingga Indonesia dan sekarang jumlahnya hampir
mencapai satu setengah milyar.
Benar,
mereka telah mengikuti jejak langkah yang benar. Karena idealisme itu
dipelajari dari manusia ideal. Seorang manusia yang tidak layak dibandingkan
dengan manusia-manusia sekelas Newton atau Napoleon, atau sekadar Caesar dan
Voltaire. Karena ia bahkan lebih agung dari Nabi Isa, Musa, Daud, Ibrahim dan
seluruh nabi. Ia telah melintasi langit dengan jasad dan ruhnya, juga melihat
surga dan neraka saat hidup dengan kedua matanya secara langsung, bukan dengan
akal saja.
Seorang
manusia yang masih lebih tinggi derajatnya dari malaikat, dari Jibril malaikat
teragung sekalipun. Saat Jibril tidak mampu menembus Sidratul Muntaha, ia
diizinkan. Dan tak seorang pun diizinkan masuk surga kelak sebelum ia masuk.
Dan tidak ada kehormatan yang lebih tinggi dari pengakuan langsung pencipta
alam semesta, ”Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur
[al-Qalam:4]”.
Muhammad
Rasulullah adalah guru mereka. Generasi awal sahabat Rasulullah tahu benar
jalan membangun umat. Karena pada dasarnya umat adalah sekumpulan manusia yang
hidup dengan pola tertentu, maka pola itulah yang mereka pelajari dari Rasulullah.
Pola baru yang menggantikan pola hidup lama di zaman jahiliyah. Qur’an sebagai
Idealisme yang turun dari langit adalah pola itu. Dan Islam yang mereka serap
mendapatkan contoh aplikatifnya dalam kehidupan Rasulullah. Seperti kata Aisyah
saat ditanya tentang hidup Rasul ‘‘akhlaqnya adalah Al-Qur’an’’. Oleh sebab itu
mengertilah, mengapa Rasulullah mengatakan ‘‘generasi terbaik adalah di zamanku
kemudian generasi berikutnya dan berikutnya’’.
Mereka
telah membuktikan jalan menuju kejayaan umat itu. Dimulai dari 13 tahun
ketahanan terhadap penganiayaan di Mekkah, lalu Hijrah meninggalkan tanah
kelahiran. Kemudian puluhan peperangan bertubi-tubi, negosiasi, hingga kembali
ke Mekkah sebagai umat baru yang berjaya, berbusung dada dan tegak kepala
sedang hatinya tunduk khusyu bersyukur. Lalu manusia berbondong-bondong masuk
ke agama ini.
Dan itu
bukanlah akhir, karena setelahnya, manusia terbaik setelah para Nabi itu, Abu
Bakar terus membawa umat mendaki lereng peradaban. Ia kokohkan basis
persatuan umat. bahkan basis Islam dengan pengumpulan sumber agama ini
dalam satu tempat yang mudah dibaca dan dipelajari generasi setelahnya, yaitu
Al-Qur’an.
Mereka yang
telah menapaki jalan itu telah menyelesaikan tugasnya dengan gilang gemilang.
Sampai pada derajat yang dalam surat Al-Fath ayat 18, disebutkan “Allah
meridhai mereka yang telah berbaiat di bawah pohon” . Namun tugas belum
selesai. Karena beban dakwah untuk membawa umat ke puncak kembali masih
panjang.
Jika mereka
menemukan kunci menuju kejayaannya, maka kunci itu sebetulnya tidak pernah
berubah. Karena sejarah akan selalu berulang. Semua sebab-sebab kemenangan
merekalah yang akan menjadi modal untuk kemenangan-kemenangan umat hari ini
saat umat memenuhi syarat-syaratnya. Begitupun beberapa keteledoran mereka akan
menjadi kehancuran saat umat menirunya sekarang ini.
Oleh karena
itu Rasulullah mengatakan “Tidak tuntas urusan umat ini kecuali dengan jalan
para pendahulunya”. Dan inilah jalan ideal itu, jalan Sang Dai. Jalan
Rasulullah membangun umat dari titik nol menuju puncak rahmat dan kebaikan bagi
alam seluruhnya, bukan hanya manusia.





Posting Komentar