Awalnya
sempat ragu untuk masuk, saat saya datang untuk mengisi kajian muslimah di
sebuah kompleks perumahan, ternyata di sana sudah ada pematerinya .Dalam hati
saya berpikir, jangan-jangan alamat yang saya tuju salah, atau jangan-jangan
saya salah mencatat tanggal, dan bukan sekarang giliran saya mengisi kajian di
tempat ini.
Sekali
lagi, nama jalan dan nomor rumah saya lihat,…. benar, seperti tertera di sms
yang saya terima. Tanggalnya pun tidak salah, akhirnya saya memberanikan diri
untuk masuk, dengan terlebih dahulu mengucapkan salam tentunya. Biarlah,
kalaupun sudah ada yang mengisi kajian, maka kehadiran saya di sini untuk
mendengar dan mendapat ilmu dari ustadz yang sudah mulai bicara. Pasti banyak
kebaikan yang akan saya dapatkan. Saat itu sebenarnya saya datang tepat waktu,
tidak terlambat.
Ternyata
ustadznya datang berdua dengan istrinya. Keduanya datang untuk memperkenalkan
buku “kisah nyata” perjalanan hidup istrinya, yang mereka tulis berdua. Saya
sebelumnya tidak menyangka sama sekali akan bertemu dengan mereka, di tempat
ini, karena memang panitia yang mengundang saya, tidak menginformasikan bahwa
sebelum saya menyampaikan materi, ada acara “perkenalan buku” tersebut.
Pelan, hati
ini mulai bergetar, terharu, dan bulir air mata pun tidak bisa terbendung,
membasahi pipi ini, meski sengaja saya sembunyikan, karena meski belum lengkap
saya mendengarkan kisahnya, sungguh suatu cobaan yang sangat berat dalam
kehidupan saudara seiman ini. Refleks langsung saya beli buku nya, paling
tidak, inilah secuil dari yang bisa dilakukan secara spontan untuk memberikan
dukungan moral bagi keduanya. Alhamdulillah, ibu-ibu peserta kajian yang lain,
spontan mengikuti langkah saya, tanpa perlu saya aba-aba, mereka langsung
membeli buku tersebut, sehingga buku yang dibawa pun habis.
Kisah yang
mengharukan, membangkitkan rasa syukur akan segala kenikmatan Allah yang di
berikan kepada kita, kisah perjalanan hidup yang membuat kita makin memahami
hakikat kehidupan. Inilah salah satu episode kehidupan yang membuat orang yang
membaca atau mendengarnya, sungguh akan tersadarkan untuk selalu bersyukur.
Awalnya hidup sebagai seorang gadis yang super aktif dengan berbagai macam
kegiatan yang positif, dari mulai kuliah, berorganisasi, dan berbisnis barang
apapun yang bisa dia jual. Sekian tahun hidup dalam kasih sayang kedua orang
tuanya yang hidup harmonis, kemudian Allah mengujinya, ketika ayahnya terjatuh
dalam dunia judi, ibunya ingin memberi pelajaran kepada sang suami, dengan cara
pulang kampung ke rumah orang tuanya. Maka anak gadisnya menjadi tulang
punggung keluarganya untuk mengurus pekerjaan rumah tangga dan mengurus
adik-adiknya. Sementara ayah tetap hidup dalam dunia judi, sampai akhirnya
mereka memilih untuk bercerai.
Berawal
dari tekanan psikologis karena kondisi keluarga yang pecah, dan juga kelelahan
fisik, Allah berkehendak menguji gadis ini, darah haidnya berbulan-bulan,
sampai 4 bulan tidak kunjung berhenti. Sepanjang rentang waktu tersebut, dia
mencari pengobatan ke beberapa dokter, yang kemudian diberinya obat-obatan,
sempat bahkan berobat ke dukun, karena keawamannya dalam pemahaman agama.
Sampai di suatu masa, pertahanan fisiknya ambruk, gadis ini pingsan dan koma,
masuk ke ruang icu selama dua hari, sebelum akhirnya Allah menyadarkan kembali.
Di saat itulah ia kembali tercenung, dengan berikutnya. Dokter menyatakan,
kedua ginjalnya rusak alias gagal ginjal, dan dia harus menjalani proses cuci
darah seumur hidup, dua pekan sekali.
Sungguh…
bukan hal mudah menerima kenyataan seperti ini, bagi siapapun. Kekuatan dan
kesabaran muncul karena kepasrahannya kepada Allah. Hari-hari dijalaninya
dengan berbagai aktivitas, tentu tidak bis afektif dulu, karena bagi penderita
gagal ginjal, asupan air dibatasi, hanya 500 ml sehari, sudah termasuk kuah
sayur dan buah berair. Sekian lama hidup sebagai gadis penderita ginjal,
kemudian Allah yang maha Rahman, mengirimkan untuknya seorang suami shalih yang
sehat dan mencintainya, dengan segala kesadaran akan konsekuensi memiliki
seorang istri yang sakit. Subhanallah… Dialah Allah, yang menanamkan rasa cinta
pada hambaNYa (QS Arrum: 21)
Banyak
pelajaran yang harus kita petik dari kisah di atas:
1. Kita harus selalu dan selalu bersyukur atas nikmat
kesehatan dan nikmat lain yang telah Allah karuniakan pada kita. Bayangkan,
untuk satu kali cuci darah, seorang penderita ginjal harus membayarkan sejumlah
Rp 450.000 -500.000. Selama ini mungkin kita jarang berpikir, berapa banyak
nikmat yang kita dapatkan, dengan ginjal sehat karunia Allah. Juga, betapa
nikmatnya kita bisa meneguk air dengan puas saat dahaga datang, sementara
penderita ginjal, harus berhitung cermat saat akan minum, jika tidak ingin
tubuhnya menjadi bengkak, karena sudah tidak bisa lagi BAK. Belum kenikmatan
lain-lain, dengan sehatnya organ-organ tubuh kita yang lain.
2. Apapun bentuk ujian yang Allah berikan pada kita, jika
disikapi dengan kesabaran dan kepasrahan, akan berakibat baik dalam kehidupan,
dunia dan juga akhirat. Kesabaran akan lahir karena pemahaman bahwa kehidupan
dunia ini sementara, akhirat kekal. Tak perlu banyak bersedih dengan kesusahan
hidup dunia, sebaliknya, tak perlu sombong dengan harta dan atribut dunia,
karena semua ini fana, pada akhirnya tidak ada yang dibawa ke akhirat.
3. Dalam konteks kehidupan berkeluarga, keretakan
hubungan suami istri, seringkali yang akan mengalami dampak negatif adalah
anak-anaknya. Maka menjadi suatu keharusan, agar kita selalu berjuang, bertekad
untuk selalu. Menjaga keharmonisan, kebahagiaan dan keutuhan hidup berumah
tangga. Keluarga adalah amanah Allah. Menjaga keutuhannya berarti menjaga
amanah Allah. Mendidik dan melindungi anggota keluarga berarti mendidik dan
mempersiapkan masyarakat dan umat.
4. Allah tidak memberikan ujian kepada seseorang, kecuali
sesuai dengan kesanggupannya. Kesadaran dan keyakinan seperti inilah yang akan
menjadi energi sabar bagi kita. Dalam kisah nyata yang saya ungkapkan di atas,
dengan kehendak dan karuniaNYa, alhamdulillah yang bersangkutan tetap bisa
melakukan tugas dan kewajiban sebagai seorang istri, mengurus rumah, memasak
dan sebagainya. Ini adalah tahun kelima kehidupannya berteman dengan sakit
gagal ginjal, dan sampai sekarang masih menjalani cuci darah secara rutin. Dia
lah Allah yang menjadikan kehidupan dan kematian, untuk menguji, siapa di
antara kamu yang paling ahsan amalnya (QS al Mulk: 2).
5. Menanamkan kesadaran untuk senantiasa merawat dan
menjaga kesehatan, sebagai wujud syukur kita kepada Allah. Agar dapat
menjalankan ibadah serta ketaatan kepadanya secara ahsan.
Demikian,
beberapa pelajaran yang harus kita petik dari pengalaman dan ujian yang dialami
oleh saudara kita. Kita berdoa untuknya, semoga Allah akan menyembuhkan
penyakitnya, selalu membimbing langkahnya untuk istiqamah dalam syariatNYA.
Wallahu a’lam bisshawab.





Posting Komentar